Ini puisi yang diambil dari karya seseorang. Mungkin isinya biasa saja, tapi sebenarnya beberapa dari kita harus mulai mempertimbangkannya.. dalam setiap detik nafas, selagi ada...
Cinta bukan sebatas berkata kangen
Sehingga cari jalan untuk bertemu
Cinta bukan hanya manifestasi nafsu yang butuh pelampiasan
Cinta juga bukan rasa cemburu berlebihan,
sehingga harus ada terdakwa di meja hijau
Cinta bukan ungkapan sayang dan ingin mati bersamanya
Cinta bukan kesetiaan yang setiap detik harus diucapkan
bak mantara sebelum perang
Cinta bukan sebuah makna kejujuran terdalam
karena pasti ada muatan kemunafikan dan kepentingan
Cinta bukan emosi berkabut, hingga bunuh diri ketika ada perpisahan
Cinta bukan muara kebenaran setiap saat ketuk palu pembebasan
Cinta bukan pembebasan tak bertuan, sehingga butuh pasukan khusus untuk merebutnya
Cinta bukan misteri malam, hingga butuh pelita untuk penerangan
Cinta adalah semuanya, tanpa batas, tanpa sekat
aku pinjem puisinya untuk diberikan ke ketiga jiwaku saat ini: Abach Puput, Ka Dasha dan Baby Aqila
Wednesday, October 7, 2009
Wednesday, September 30, 2009
pertama kali suka krn dia naik sepeda ke kampus :-) aku juga suka naik sepeda..
Bukanlah kurangnya rasa cinta yang membuat kebersamaan menjadi tidak bahagia, tetapi kurangnya persahabatan. Ketika kita memohon doa, maka ada 2 konsekuensi mutlak dalam doa tsb. Pertama, Tuhan pasti akan mengabulkan doa itu, asalkan konsekuensi kedua dilaksanakan oleh yg memanjatkan doa, bahwasanya kita mengkondisikan diri kita utk layak dalam mengusahakan agar doa tsb berhasil.
Di Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adam AS dan istrinya Siti Hawa yang telah terpisah selama 100 tahun, begitu banyak manusia yg datang dan mencatatkan 'keinginan hatinya' akan pasangannya kelak di akhirat. Ini hanya akan tercapai bukan krn dilandasi rasa cinta, tetapi karena kita mensahabatkan diri kita dengan orang yang kita inginkan menjadi pasangan akhirat tsb.
Jadi mana yg lebih indah? Menikahi orang yang adalah sahabat kita? Atau menikahi orang yang siap bersahabat dengan kita? Jawabannya: sama. .....

Di Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adam AS dan istrinya Siti Hawa yang telah terpisah selama 100 tahun, begitu banyak manusia yg datang dan mencatatkan 'keinginan hatinya' akan pasangannya kelak di akhirat. Ini hanya akan tercapai bukan krn dilandasi rasa cinta, tetapi karena kita mensahabatkan diri kita dengan orang yang kita inginkan menjadi pasangan akhirat tsb.
Jadi mana yg lebih indah? Menikahi orang yang adalah sahabat kita? Atau menikahi orang yang siap bersahabat dengan kita? Jawabannya: sama. .....

Aku pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang juga sahabat sejati. Bukannya hanya dari kegemaran kami saja yang sejalan, tetapi setelah melalui begitu banyak hambatan, kekhilafan, fitnah, dan segala macamnya, aku tetap menemukan bahwa dia adalah sosok yang setia yang selalu mau MENDENGAR, mau BERBAGI RASA, mau TUKAR PENDAPAT, dan MEMBUKA PIKIRAN dan HATI.
Sahabat yang sangat sederhana. Laki-laki yang serius dalam pekerjaannya, menjadi teman bermain dan pembimbing bagi keluarganya, teguh dalam prinsipnya, dan sabar. Imam yang baik.
Dia yang paling mengerti semua kemarahanku, perasaanku, suasana hatiku, sangking mengertinya ketika ada perubahan sedikit saja dia langsung tahu. Dia yang paling tau makanan kegemaranku, hal yang membuat aku ngambek, kemalasanku, tampangku ketika tidur, dan semua sifat-sifatku. Semua hal strategis yang bisa membuatku hanya percaya kepadanya (laki-laki kedua yang aku percaya ya Ayahku! obvious.. kedua-duanya tidak pernah berbohong sedikitpun padaku, ga pernah ingkar janji....)
Persahabatan 17 tahun tidak akan mungkin terus berjalan tanpa doa dan kesabaran serta saling pengertian. Semoga Allah akan selalu menjaga.
Iya. Hari ini aku sudah menikah dengan dia 10 tahun lamanya. Aku menikahi laki-laki yang pertama menarik perhatianku karena bersepeda ke kampus dan terlihat lucu ketika ospek! :-) Dia sahabatku. Dia mentor pelajaran fisikaku, mekanika teknik yang menggilakan, dan struktur... dan sekarang soal pengetahuan umum.... perkembangan politik dan ekonomi.. dia adalah "otak kiri dan kananku", dia adalah "tangan kiri dan kananku"... .
Semoga Allah selalu menjaga persahabatan kami. Semoga Allah menjaganya sampai kami di akhirat. Amin.
me 'wuv julesta putra! :-)
Monday, August 24, 2009
2 malam yang lalu aku mimpi ketemu sama ayahku yang aku panggil Daddy dari kecil.. iya iya.. bukan sok bule.. tapi mungkin ortu lebih memilih panggilan yg rada nyentrik buat mrk waktu itu - dan iya, aku pangil ibuku Ummi.. nah yg ini kedengarn dari timteng...
Kenapa selalu mimpi Daddy? ya karena Ummi ku masih ada, jadi sedikit banyak masih sering ngopi bareng atau duduk bareng makan keripik sambil nonton tipi. Atau berdebat yang kadang seperti tiada habisnya :-)
Mimpi yang sedikit aneh karena aku jarang sekali mimpi soal Daddy. Di mimpi itu aku dan dia seperti terpisah ruangan dan pintu2 yang tidak terkunci tapi tidak bisa kumasuki. Sampai akhirnya tiba-tiba aku menemukan celah dan Daddy langsung merangkulku seperti waktu kecil dulu.. Daddy bertanya," Adek, kemana aja selama ini?" -- Lah.. dalam mimpi aku gak bisa menjawab, apalagi dalam realita. Kalaupun aku harus menjawab, maka aku harus ziarah lagi dan akhirnya berpura2 berbicara sama Daddy walaupun hanya nisan saja yang terlihat di hadapan - sambil menggunakan imajinasi - lagi dan lagi.
Mungkin, karena aku kurang bersyukur? Ato mungkin karena aku suka iseng? Ato mungkin karena ini bulan dari segala bulan? membuat aku berpikir paginya, sambil menyeka mata kiriku yang berair karena aku nangis di bantalku dalam tidur...... mungkin Daddy mau aku seperti waktu kecil? atau Daddy ingin aku berhati kuat?
Yah, gak tau lah... tapi yang jelas aku jadi nulis puisi dikit.. kalau kebaca seperti tolol ya mohon maklum.. namanya pemula yang jarang baca dan ga pernah belajar nulis puisi...semuanya hanya karangan instan di depan monitor...
[especially dedicated to Mas Puput and girls (walau ga FB-an), Sarah (sorry sweety if you dont understand, but you are included as you are important to me, Gita yg manis, Ameng yg lagi di Mecca.. doain Uni ya Meng..., Henni..iya ini temen suka curhat soal Bapak2 kami yang kami rasa top dan keren abis ...dan sahabat2 serta sodara2 yang ada di efbi, termasuk adik sepupuku Yuni yang manis..] Ini dia...

Kakiku yang dingin terkena lantai tua
Kutarik selendang yang menutup rambut
Terjatuh lagi, kutarik lagi
Rambut ini terasa licin dan tidak mengerti
Bahwa, ada kala aku ingin hanya berdua
Dengan curahan hati
Hati yang kadang brengsek dan kepala yang kadang kurang ajar
Kutarik lagi selendang yang menutup rambutku
Duduk ku di sudut dan diam
Kuhela nafas, yang sedikit tersenggal ditekan malam
Mata yang terpejam mengulang semua
Baur indah dan marah – kenapa aku musti marah??
Toh semua aku juga penyebabnya
Sudah lama aku jauh, jauh tanpa aku sadari
Mungkin memang begini jejaknya
Aku hanya bisa berbicara dalam hati….berusaha menepis setan-setan
Dudukku di sudut dan diam
Tanganku terlipat dalam dekapan, terselubung oleh selendang
Ya Rabbi…sekali lagi, hanya Engkau curahan hati
Maafkan hambaMu di bulan ini,
Dan terima kasih karena telah mengerti, karena aku tidak merasakan hukumanMu
Tapi jika ada, jauhkanlah hukuman itu ….
karena malam ini, aku sadar aku mungkin tak layak di istanaMu
Tapi akankah kudapat hibaMu?
Karena aku tau, mungkin setelah ini aku akan mengulangi
Ampuni aku, karena mengkhianatiMu Kekasihku
Dan selendang itu terjatuh lagi...
Hatiku berpikir, kepalaku menuduh
Bagaikan imanku yang tumbuh dan pupus silih berganti
Kenapa selalu mimpi Daddy? ya karena Ummi ku masih ada, jadi sedikit banyak masih sering ngopi bareng atau duduk bareng makan keripik sambil nonton tipi. Atau berdebat yang kadang seperti tiada habisnya :-)
Mimpi yang sedikit aneh karena aku jarang sekali mimpi soal Daddy. Di mimpi itu aku dan dia seperti terpisah ruangan dan pintu2 yang tidak terkunci tapi tidak bisa kumasuki. Sampai akhirnya tiba-tiba aku menemukan celah dan Daddy langsung merangkulku seperti waktu kecil dulu.. Daddy bertanya," Adek, kemana aja selama ini?" -- Lah.. dalam mimpi aku gak bisa menjawab, apalagi dalam realita. Kalaupun aku harus menjawab, maka aku harus ziarah lagi dan akhirnya berpura2 berbicara sama Daddy walaupun hanya nisan saja yang terlihat di hadapan - sambil menggunakan imajinasi - lagi dan lagi.
Mungkin, karena aku kurang bersyukur? Ato mungkin karena aku suka iseng? Ato mungkin karena ini bulan dari segala bulan? membuat aku berpikir paginya, sambil menyeka mata kiriku yang berair karena aku nangis di bantalku dalam tidur...... mungkin Daddy mau aku seperti waktu kecil? atau Daddy ingin aku berhati kuat?
Yah, gak tau lah... tapi yang jelas aku jadi nulis puisi dikit.. kalau kebaca seperti tolol ya mohon maklum.. namanya pemula yang jarang baca dan ga pernah belajar nulis puisi...semuanya hanya karangan instan di depan monitor...
[especially dedicated to Mas Puput and girls (walau ga FB-an), Sarah (sorry sweety if you dont understand, but you are included as you are important to me, Gita yg manis, Ameng yg lagi di Mecca.. doain Uni ya Meng..., Henni..iya ini temen suka curhat soal Bapak2 kami yang kami rasa top dan keren abis ...dan sahabat2 serta sodara2 yang ada di efbi, termasuk adik sepupuku Yuni yang manis..] Ini dia...

Berjingkat-jingkat di dalam gelap
Menebar pandangan ke dinding dinding kusam Kakiku yang dingin terkena lantai tua
Kutarik selendang yang menutup rambut
Terjatuh lagi, kutarik lagi
Rambut ini terasa licin dan tidak mengerti
Bahwa, ada kala aku ingin hanya berdua
Dengan curahan hati
Hati yang kadang brengsek dan kepala yang kadang kurang ajar
Kutarik lagi selendang yang menutup rambutku
Duduk ku di sudut dan diam
Kuhela nafas, yang sedikit tersenggal ditekan malam
Mata yang terpejam mengulang semua
Baur indah dan marah – kenapa aku musti marah??
Toh semua aku juga penyebabnya
Sudah lama aku jauh, jauh tanpa aku sadari
Mungkin memang begini jejaknya
Aku hanya bisa berbicara dalam hati….berusaha menepis setan-setan
Dudukku di sudut dan diam
Tanganku terlipat dalam dekapan, terselubung oleh selendang
Ya Rabbi…sekali lagi, hanya Engkau curahan hati
Maafkan hambaMu di bulan ini,
Dan terima kasih karena telah mengerti, karena aku tidak merasakan hukumanMu
Tapi jika ada, jauhkanlah hukuman itu ….
karena malam ini, aku sadar aku mungkin tak layak di istanaMu
Tapi akankah kudapat hibaMu?
Karena aku tau, mungkin setelah ini aku akan mengulangi
Ampuni aku, karena mengkhianatiMu Kekasihku
Dan selendang itu terjatuh lagi...
Hatiku berpikir, kepalaku menuduh
Bagaikan imanku yang tumbuh dan pupus silih berganti
Sunday, August 23, 2009
Tidak ada judul (by Rachma)
Tiga malam yang lalu aku bermimpi bertemu Daddy... setelah pikiran dan hatiku gelisah tak berakar... tiap saat aku memikirkanNya.. tapi .. kali ini hanya berupa ketukan jari-ku di perangkat teknologi ini yang mungkin mengungkapkan sedikit rasa. Yang lain hanya akan kusimpan semata, untuk menjadi rahasia aku dan Dia...
Berjingkat-jingkat di dalam gelap
Menebar pandangan ke dinding dinding kusam
Kakiku yang dingin terkena lantai tua
Kutarik selendang yang menutup rambut
Terjatuh lagi, kutarik lagi
Rambut ini terasa licin dan tidak mengerti
Bahwa, ada kala aku ingin hanya berdua
Dengan curahan hati
Hati yang kadang brengsek dan kepala yang kadang kurang ajar
Kutarik lagi selendang yang menutup rambutku
Duduk ku di sudut dan diam
Kuhela nafas, yang sedikit tersenggal ditekan malam
Mata yang terpejam mengulang semua
Baur indah dan marah – kenapa aku musti marah??
Toh semua aku juga penyebabnya
Sudah lama aku jauh, jauh tanpa aku sadari
Mungkin memang begini jejaknya
Aku hanya bisa berbicara dalam hati….berusaha menepis setan-setan
Dudukku di sudut dan diam
Tanganku terlipat dalam dekapan, terselubung oleh selendang
Ya Rabbi…sekali lagi, hanya Engkau curahan hati
Maafkan hambaMu di bulan ini [ramadhan 2009]
Dan terima kasih karena telah mengerti, karena aku tidak merasakan hukumanMu
Tapi jika ada, jauhkanlah hukuman itu
…. karena malam ini, aku sadar aku mungkin tak layak di istanaMu
Tapi akankah kudapat hibaMu?
Karena aku tau, mungkin setelah ini aku akan mengulangi
Ampuni aku, karena mengkhianatiMu Kekasihku
Dan selendang itu terjatuh lagi...
Hatiku berpikir, kepalaku menuduh
Bagaikan imanku yang tumbuh dan pupus silih berganti
Berjingkat-jingkat di dalam gelap
Menebar pandangan ke dinding dinding kusam
Kakiku yang dingin terkena lantai tua
Kutarik selendang yang menutup rambut
Terjatuh lagi, kutarik lagi
Rambut ini terasa licin dan tidak mengerti
Bahwa, ada kala aku ingin hanya berdua
Dengan curahan hati
Hati yang kadang brengsek dan kepala yang kadang kurang ajar
Kutarik lagi selendang yang menutup rambutku
Duduk ku di sudut dan diam
Kuhela nafas, yang sedikit tersenggal ditekan malam
Mata yang terpejam mengulang semua
Baur indah dan marah – kenapa aku musti marah??
Toh semua aku juga penyebabnya
Sudah lama aku jauh, jauh tanpa aku sadari
Mungkin memang begini jejaknya
Aku hanya bisa berbicara dalam hati….berusaha menepis setan-setan
Dudukku di sudut dan diam
Tanganku terlipat dalam dekapan, terselubung oleh selendang
Ya Rabbi…sekali lagi, hanya Engkau curahan hati
Maafkan hambaMu di bulan ini [ramadhan 2009]
Dan terima kasih karena telah mengerti, karena aku tidak merasakan hukumanMu
Tapi jika ada, jauhkanlah hukuman itu
…. karena malam ini, aku sadar aku mungkin tak layak di istanaMu
Tapi akankah kudapat hibaMu?
Karena aku tau, mungkin setelah ini aku akan mengulangi
Ampuni aku, karena mengkhianatiMu Kekasihku
Dan selendang itu terjatuh lagi...
Hatiku berpikir, kepalaku menuduh
Bagaikan imanku yang tumbuh dan pupus silih berganti
Sunday, July 12, 2009
- Mengapa Malam? -

mengapa malam?
kala semua seperti terhenti
angin bertiup dingin bergemerisik
suara-suara serangga saling berbisik
setiap insan seperti terlena dalam mimpi
mengapa malam?
dalam kegelapan, dan nyawa serasa tersentak
malam yang membuatku kadang terjaga
mengingat senyummu
mengingat ceritamu
mengingat mata bersahabatmu
mengingat semangatmu
mengingat harapanmu
mengingat semua doamu
yang bukan hanya untukmu
tapi juga untukku
mengapa malam?
karena ketika dunia serasa bisu
senyummu masih di jiwaku
karenamu, dan malam
inspirasi telah mengisi jiwaku
mengapa malam?
karena malamlah yang membawamu padaku
kala semua seperti terhenti
angin bertiup dingin bergemerisik
suara-suara serangga saling berbisik
setiap insan seperti terlena dalam mimpi
mengapa malam?
dalam kegelapan, dan nyawa serasa tersentak
malam yang membuatku kadang terjaga
mengingat senyummu
mengingat ceritamu
mengingat mata bersahabatmu
mengingat semangatmu
mengingat harapanmu
mengingat semua doamu
yang bukan hanya untukmu
tapi juga untukku
mengapa malam?
karena ketika dunia serasa bisu
senyummu masih di jiwaku
karenamu, dan malam
inspirasi telah mengisi jiwaku
mengapa malam?
karena malamlah yang membawamu padaku
Wednesday, December 10, 2008
Ketika Hak-hak Kita Bersajak
So last night the aura was pretty different. Tempoe Doeloe style mixed with songs by Iwan Fals, Slank and lines of poetries. Something that awaken me that I wish for a lot of young generations here will do something, in their little world, to make changes. 60th International Human Right Day was the event celebrated.
First time for us to conduct it with very strong Indonesian culture. First time the Keroncong songs are played at the compound.
Amazed by how creative the youngs in Medan. Strongly expressed their thoughts, some with angers, some with sadness, some with love...

Wednesday, December 3, 2008
Sadar...
Sadar.. susah untuk mau sadar. Cenderung lupa akan fakta yang membentang. Katanya hidup tanpa mimpi bagaikan mati, tapi hidup terlalu bermimpi juga membunuh....
Kadang aku berpikir, kapan sebenarnya kita sampai pada titik sadar.. sadar bahwa kita ini mahkluk kecil yang pada akhirnya gak berdaya? tapi dengan segala kegagahan seolah kita bisa menaklukkan dunia.
Malam-malam yang panjang melihat alur buih yang tertinggal di belakang kapal, geladak yang basah oleh embun malam, laut hitam membentang... seharusnya membuat sadar, bahwa kita, aku dan kamu, hanyalah seperti buih... tapi kenapa susah untuk sadar???
Hela nafas panjang, dalam diam kami berpikir.. sepanjang ada kemauan untuk sadar, mungkin masih banyak peluang. Meraih mimpi dalam sadar sesungguhnya yang terbaik - karena hidup bukan angan-angan... hidup adalah mimpi yang menjadi kenyataan.
Sadar...
Kadang aku berpikir, kapan sebenarnya kita sampai pada titik sadar.. sadar bahwa kita ini mahkluk kecil yang pada akhirnya gak berdaya? tapi dengan segala kegagahan seolah kita bisa menaklukkan dunia.
Malam-malam yang panjang melihat alur buih yang tertinggal di belakang kapal, geladak yang basah oleh embun malam, laut hitam membentang... seharusnya membuat sadar, bahwa kita, aku dan kamu, hanyalah seperti buih... tapi kenapa susah untuk sadar???
Hela nafas panjang, dalam diam kami berpikir.. sepanjang ada kemauan untuk sadar, mungkin masih banyak peluang. Meraih mimpi dalam sadar sesungguhnya yang terbaik - karena hidup bukan angan-angan... hidup adalah mimpi yang menjadi kenyataan.
Sadar...
Subscribe to:
Posts (Atom)