Monday, March 31, 2014

Madinah, Negeri Damai

Sudah hampir setahun perjalanan ibadah umroh kami jalankan. Memang benar kata pepatah, tiadalah yang lebih mahal di kehidupan ini selain waktu yang hilang di depan mata. Perjalanan umroh keluarga, yang mungkin menurut beberapa orang biasa saja, akan tetapi merupakan perjalanan tak terlupakan bagi kami... Bagiku, bagi suamiku dan anak-anak...

Kejutan Rezeki
Siapa sangka rezeki datang dari mana. Ketika aku baca kembali tulisanku ketika pertama kali berhijab, ada doa kecil di sana, doa untuk bisa singgah di kota Sang Pembelah Bulan... Kota Kekasih Segala Umat, dan rezeki itu datang tanpa disangka-sangka. Kami akhir ya bisa berangkat sekeluarga, ... Anugrah yang luar biasa. Alhamdulillah. Setiap malam kami melihat tayangan ritual umroh dan sejarah jejak para Rasul serta perjuangannya di kedua kota di tanah Haram tersebut. Kadang aku berpikir, mungkin inj bagian dari doa-doaku yang dikabulkan Allah ketika membaca novel cerdas tentang Rasulullah setiap pagi di pos satpam kantor...atau doa suamiku juga? Atau doa anak-anak? Yang jelas, siapapun itu, doa tersebut dianugerahkan ke tangan kami. Alhamdulillah ... Persiapan demi persiapan dilakukan dalam waktu yang singkat. Jujur, aku sedikit takut, ... Mengingat semua yang pernah aku jalani dalam hidup ... Takut karena sering mendengar hal konyol dari mereka ya g pernah ke sana, bahwa akan selalu ada balasan... Ya Allah, pikirku, ... ampunkan hambamu ini.. Kasihani kami... Begitupun, aku persiapkan semua untuk perjalanan. Aku sempatkan buat buku panduan umroh untuk kami, ya karena suka desain, di desain sesuai dengan selera masing masing penggunanya... Sampai jahit baju untuk keberangkatan! Yes :) jahit sendiri dong! .... Biar hemat! Hee hee... Belum belanja segala kelengkapan, ... Mulai susu formula, pampers, susu anak-anak, kaos kaki, manset, ini dan itu... 
Tapi untuk saran bagi yang akan berangkat..., sebenarnya tidak perlu kuatir dengan kelengkapan. Di sana semua ada dan murah!!! Baju banyak! Abaya banyak! Baju ala Arab untuk laki-laki (namanya top) juga banyak! Dan semua di jual di sekitar hotel. Makanan juga berjibun, mulai dari susu, keju, yoghurt, ice cream, nasi kurma, lauk... Semua ada! Buah-buahan...minuman segar, jus mangga... You name it! Semua tersedia ... Jadi koper juga tidak perlu di-isi padat-padat. Lagian toh baju yang kotor sedikit jika dicuci kering dalam waktu kurang dari sejam! (pengalaman pribadi) 
Walau banyak juga bawaan kami karena membawa tiga anak, tapi mungkin pengalaman sebagai light traveller membuat kami juga realistis dan praktis ketika packing. Walhasil 4 koper tidak terisi penuh. Padatnya juga karena bawa pampers Dzar, ... Yang mana juga sedikit konyol seolah olah di Mecca sana tidak ada yang jual pampers. Begitu juga dengan ihram. Membawa dua pasang ihram untuk suamiku. Ternyata di sana juga banyak banget. Tapi ya kalau disuruh kasih saran, bawalah ihram yang tipis kalau musim panas, dan bawa satu oasang juga tidak apa.
Kami berangkat dengan paket yang cukup menarik. Tawaran 16 hari di sana ternyata terasa singkat. Untung adik ipar sendiri yang punya travel, sehingga agak mudah bagi kami untuk pengaturan dan persiapan. Yah, hitung hitung, ibadah juga, daur rezeki sesama ipar juga :) 

Langit Jingga
Ya ampun ketika berangkat memang anak-anak menjadi tantangan yang luar biasa :) . Tantangan yang menyenangkan ... Baby Dzar aktif luar biasa, terlalu gembira dengan perjalanan jauhnya yang pertama. Begitu juga Dasha dan Aqila, walau berusaha tenang. Mereka cukup baik dengan sekali-kali menghafal ayat-ayat dalam buku panduan. Kami berdua harus menjaga mereka ditambah Ummi yang juga ikut serta. Perjalanan terasa biasa bagiku, ya mungkin karena sudah terlalu sering naik pesawat jarak jauh. Tapi anak-anak...wah! Mereka seperti dapat lotere terbesar, main rumah-rumahan di pesawat. Ganti channel bolak-balik, makan bolak-balik... Dan yang paling lucu ke toilet bolak-balik karena suka dengan susunan di toilet!! Ugh... Kadang kami hampir hilang kesabaran, tapi kadang jadi geli sendiri... Tiap berapa menit Aqila merasa harus ke toilet. Sementara jika Aqila ke toilet Dasha juga ikut. Nah artinya baby Dzar akan heboh mau ikut juga. Waduh, ... Untung suamiku itu penyabar luar biasa ke anak-anak. Walau baby Dzar pake acara ngamuk, ga mau pakai seatbelt, nangis sampai muntah, tapi ya teuteup.... Nikmat juga...

Tiba di Jeddah, setelah perjalanan 8 jam dan transit di Kuala Lumpur memberikan kelegaan yang luar biasa. Cuma sedikit miris melihat petugas imigrasi di bandara yang sedikit kurang bersahabat dengan pendatang dari Indonesia. Tapi, kadang terus terang aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka, karena sering sikap kita, jemaah dari Indonesia, suka sembrono, berantakan, dan tidak mengerti banyak hal. Kami membantu di sana-sini, karena kasihan juga melihat muthawwif yang sudah hampir hilang suara untuk mengatur sana sini... Dan pada akhirnya semua teratur juga, bisa duduk manis dalam bis menuju Madinah, ....perhentian pertama di tanah Haram. Kami sekeluarga duduk di row paling belakang. Suamiku mengajarkan beberapa sejarah Islam, ... Kami membahas soal agama, hal yang sering kami lakukan di Medan, di rumah, tetapi kali ini terasa lain ... Kali ini terasa jauh lebih dekat.  Dekat dengan sejarah, dekat dengan perjuangan Rasulullah, merasa satu nafas dengan semua ciptaan Allah ... Anak-anak terlelap, baby Dzar tetap dalam gendongan abachnya.... Dan tak lama, aku juga terlelap di bahunya, bahu lelaki pelindungku...

Tiba-tiba, aku dibangunkan...walau masih letih, telinga tetap secepat kilat menangkap pemberitahuan bahwa kami akan memasuki Madinah... Semua penumpang terdiam, mendengarkan panduan doa oleh sang ustadz... Mengikuti sebaik mungkin, ... Bait demi bait, ayat demi ayat, ... Waktu itu menjelang fajar di Madinah.... Aku melihat beberapa jemaah berjalan, abaya dan burqa mereka dihembus angin yang lumayan kencang. Sepasang suami istri berjalan, sedikit terhuyung, menentang angin, menuai pahala dalam langkah-langkahnya menuju Nabawi.

Jantungku berdegup kencang, Ini lebih gila dari perasaanku dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di benua Amerika! Jauh lebih gila, ... Kami kemudian tiba di dekat hotel, turun dari bus. Seketika aku merasakan dinginnya angin pagi Madinah. Tetapi dingin yang menyambut, ...lembut lantunan ayat Al Quran terdengar, ...dan hal pertama aku lihat bukan Nabawi, ... Tapi langit jingga Madinah. Warna jingga itu tidak bisa dilupakan. Aku seperti hanyut dalam suasana dan kuasa Allah. Jingga yang tidak sama dengan warna langit ketika matahari terbit atau tenggelam di belahan manapun di bumi ini. Ntahlah, mungkin hanya aku yang merasa begitu, tapi warna langit jingganya begitu menarik jiwaku. Sambil menunggu yang lain turun dari bus, aku hanya bisa mengucapkan Alhamdulillah dan Subhanallah berkali-kali. Kerongkonganku tersekat menahan tangis, karena ya Tuhan.... Baru di Madinah saja rasanya sudah kurang layak untukku, mengingat semua kekurangan dan dosa, apalagi surgaMu ya Rabb... Doaku singkat, hanya meminta supaya awal dan proses ibadah kami berjalan lancar dan dalam ridhonya. Peluk kami ya Rabb ...
Saat menunggu check in ke hotel, aku seidkit ngobrol dengan Ummi... Tiba2 kami berdua teringat Daddy. Aku smalaikan ke Ummi, jika bisa mengulang waktu, aku akan menerima tawaran Daddy untuk berangkat haji. Cuma mungkin aku waktu itu terlalu muda. Ummi, dengan mata berkaca-kaca, cuma mengatakan bahwa waktu tidak akan bisa kembali. Yang penting adalah kami sudah berada di situ...bersama-sama...dan dia untuk Daddy mudah-mudahan akan terkabulkan. Semoga beliau dilapangkan kuburnya, diterangkan di sana, ditinggikan derajatnya, dan amal ibadahnya diterima Allah. Bagaimanapun, Daddy adalah orang tua yang luar biasa bagi kami, kekasih kami, tempat berkeluh kesah, tempat belajar, ... 

Payung Tanpa Hujan
Setelah membereskan perlengkapan, mebereskan anak-anak kami berjalan menuju Masjid Nabawi. Masjid berwarna putih krem itu menungggu. Ini beda dari yang dilihat di televisi. Berbeda dari apa yang sering kita dengar dari cerita traveller yang pernah di sana. Berbeda dengan apa yang kita baca di internet, lihat di majalah... Sangat berbeda. Kali ini Nabawi menunggu kami. Menungguku. Ketika tiba di gerbangnya, kami sebagai dua orang yang belajar arsitektur membicarakan keindahan masjid itu. Bagaimana perkembangannya sejak dulu yang dibangun oleh Rasulullah, hanya sepetak kecil disebelah kamar Aisyah. Hari ini Nabawi menjadi saksi tangis dan senyuman begitu banyaknya umat manusia. Payung payung putih terkembang sebahagian, melindungi mereka yang beribadah, dari matahari yang terik, tetapi bagi kami tidak menyengat. Hanya panas, tapi panas yang setiap insan terima dengan ikhlas. Suamiku mengajak baby Dzar masuk ke section laki-laki untuk sholat. Sementara aku berjalan dengan dua anak gadisku ke section perempuan. Deg degan ... Jantungku berdegup lebih keras dari rasa pertama jatuh cinta, atau ketika menghadapi ujian mekanika teknik, deg degan yang sangat nikmat... Yang aku rasa, hanya aku dan Dia yang tau. Tapi aku masih belum menangis, ... 

Pintu megah itu terbuka lebar dan seorang perempuan memakai niqab hitam memeriksa tas setiap tamu yang masuk. Jujur aku sedikit gugup karena membaca cerita kadang kita tidak diberi izin masuk kalau membawa camera, atau benda-benda yang tidak layak. Tapi ternyata perempuan petugas itu begitu ramah. Hiasan henna di tangannya, dan gelang emas yang melingkar di lengannya yang tertutup kain niqab membuatku berpikir, ah, ... Perempuan ya tetap perempuan... Keindahan ada pada wanita itu. Ini sama sekali jaih dari tulisan-tulisan yang kadang memberikan review yang jelek. Subhanallah, katanya ketika melihat kedua anakku. Aku tersenyum. 

Tiba di jalur untuk sholat. Aku mengajarkan Dasha dan Aqila bahwa mereka harus tertib, sholat dan berdoa untuk hal-hal yang penting bagi mereka. Tiba waktuku untuk beribadah. Ibadah kali ini juga berbeda. Aku merasa seperti di interview. Seperti melamar pekerjaan, atau menyatakan perasaanku, tapi dengan emosi yang masih sederhana. Hingga sujud pertama mengingatkan aku bahwa di masjid yang sama, hanya beberapa langkah, terbujur kekasih Allah yang teramat mulia. Bersamanya sahabatnya yang setia. Dan aku runtuh di situ. Semua perjalanan hidup berputar putar di sekitarku. Malu yang luar biasa mengingat semua kesalahan, keserakahan, keculasan, .... Malu karena rasa bangga yang hina, malu karena kemunafikan ... Ya Tuhan, ya Rabb... Ampunkan aku, suamiku, orang tuaku, saudara-saudaraku... Jauhkan anak-anakku dari langkah yang salah. 

Sujud kedua, juga sama.... Berputar putar. Tau rasanya bagaimana terbang tanpa sayap? Tubuh terasa ringan tak terkendali, seperti terhisap ke dalam medan magnet? Ingin bisa mengendalikan perasaan, tapi tidak kuasa. Karena memang tidaklah kekuasaan itu di tanganku... 

Begitu seterusnya. Doaku random, merasa waktu begitu sempit. Doaku random, mencoba mengingat kira kira siapa lagi yang harus aku doakan. Begitu banyak hal yang penting, begitu sempit waktu. Begitu singkat waktu untuk berterima kasih, atas kehidupan yang aku miliki.

Tiba-tiba aku baru sadar akan dua gadis kecilku yang duduk resah melihat ke mataku yang basah. Bukan tangis ketakutan saja, tapi tangis bahagia karena hari itu pertama kali aku dekat dengan Rasulullah... Begitu jauhnya selama ini. Aqila bertanya, "Amie, ... Amie gak apa apa?" ...resah kakaknya menenangkan Aqila,"Hush, Amie lagi berdoa tu..." - Aku kemudian memanggil mereka mendekat dan menjelaskan bahwa kami begitu beruntung bisa berada di Nabawi hari itu. Aku menjelaskan bahwa tangis bukan saja simbol kesedihan, tapi juga ketika kebahagaiaan. Tangis diciptakan agar melegakan perasaan. Dan hari itu aku ingatkan kembali mereka bahwa tidak ada kekayaan lain di dunia ini selain mereka dan bahwa keinginan aku dan abach mereka tidak lain kecuali mereka menjadi ksatria-ksatria Islam yang siap membela agama, masyarakat, menjadi pemimpin, menjaga sesama keluarga.... Dasha mengerti. Aqila masih bingung.

Setelah itu kami berjalan keluar, untuk menemui suamiku. Dari jauh aku lihat dia mengawasi Dzar yang berlari ke sana ke mari. Ternyata. Ia sudah menunggu lebih dari satu jam.... Begitulah, ... sholat 2 rakaat dan doa di Nabawi bisa begitu lama - karena mungkin kita manusia merindukan kedekatan itu. 

Ya Allah, jaga cinta kami.... Engkaulah payung itu, yang melindungi kami walau tanpa hujan...
Tapi benarlah apa yang dikatakan dalam Novel pembelah bulan, dana cerita para ulama, bahwa Madinah adalah negri yang damai. Kedamaian itu terasa sampai ke tulang sum-sum...merambat di dalam nadi. 

Pagi pertama di Madina
::// jaurinata 

Wednesday, March 26, 2014

No firm decision today

Never been so tired. Nope! Been worse actually ... Exhausted like crazy. Almost fall from my 22C seat in this new plane cabin. Sitting next to a sweet lady who offered me a candy. "No thanks Mam, I have too sweet of a life in the past days, " I thought in my head.

Againt my head is flying far far away, passing the thick sky this evening, to the conversation I had with those two big businessmen. How perhaps many common people think that those who runs big business have no heart. Well, not always. These two aged men were the sweetest persons who welcomed our trip to that island of hope. In the conversation I had with them they told me that one of the important thing that one should have when running a business is not only education, strategy, skills ... but most of all guts and firm decisions. 

Rachma, be firm in what you want to do in your life ...with your work. Remember that you own your prerogrative decision. You can take control! When you have it that use it. But make sure it is leading to the right direction. 

I thought in my head, " Sirs, that is why I am not a big businessmen like you both, I just cannot make decisions, fragile decisions. I have no guts." I sighed deeply. The lady next to me stared at my ipad monitor, ... Trying to read...and looked down when I caught her of staring at my ipad. Meanwhile I dont really care. She can read it. 

Damn, I cannot. Oh well, now the easy song in my headphone is taking my thought again to passing the thick clouds, against the blue crispy sky. 

Shut! Not today, but perhaps tomorrow - I'll be just like the Misters who run the oil pipeline, making firm decision. Will I? Sometimes I am scared of my own thought. 

Thursday, February 27, 2014

Sesal - lagu bagus Ermi Kulit :)

Ketika kau terbayang,
kurasa merasa bersalah,
karna kesungguhanmu,
tlah sekian lama kuabaikan...

Namun kau memang tulus,
dan tak pernah putus asa,
walau aku tenggelam,
di kedalaman angan semu yang melupakanmu...

Sekarang, harus bagaimana
akhirnya hatimu pun luka
sekarang kucari ke mana
dirimu tlah tiada lagi
kasihmu, tak kutemukan lagi...

...

Aku selalu suka lagu ini
Suka dengan penyanyinya Ermi Kulit
Punya kekuatan suara berat yang bisa menyeret
Lirik yang juga bagus...

Ah, tapi dalam hidup
Banyak manusia yang pergi ketika sakit
Tapi banyak pula yang memaafkan

Bersyukurlah
Bagi kita yang masih dijaga...

Carpe Diem! Selamat hari Jum'at dunia blog...

Tuesday, February 25, 2014

Perempuan baik itu iparku...

Malam ini aku ingin menulis tentang seorang perempuan, seorang istri... Aku kenal perempuan ini mungkin sudah hampir 13 tahun. Ia perempuan Sunda, manis, berhijab panjang. Pertama aku melihat wajahnya hanya melalui foto dan sederetan kata berisi bio-data. Seperti layaknya seseorang hendak melamar pekerjaan. Aku memandangi foto itu, kemudian membaca satu persatu penjelasan tentang dia, mulai dari keterangan fisik, umur, hobi, orang tua, bahkan sampai penyakit orang tuanya dan lain sebagainya. Foto itu adalah bagian dari sebuah surat yang dilayangkan dari Cairo, dari adik iparku.

Surat itu adalah penjelasan dan permohonan izin dari kedua orang tua suamiku bahwa adik iparku yang laki laki siap untuk menempuh rumah tangga dengan si perempuan manis berhijab tadi. Perempuan itu senang membaca Quran, paham isinya, tetapi masih terus belajar. Ibu mertuaku, yang memang sering berbagi cerita dengan aku, duduk berpikir. Aku juga jadi berpikir. Inilah ta'aruf. Sesuatu yang sering aku dengar, tetapi jauh dari budaya yang aku jalani - bahkan ketika menjadi pacar suamiku dulu selama 7 tahun! Hal yang sungguh berbeda. Ta'aruf. What kind of nonsense is this??? Menolak logikaku yang tidak mengerti bagaimana cinta bisa lahir dari ta'aruf. Akan tetapi tidaklah tepat untuk aku menghakimi bahwa hal tersebut tidak baik, karena agama Islam, agama yang aku anut, menganjurkannya. Dan aku belum pernah menyaksikan kegagalan sebuah hubungan yang dimulai dengan ta'aruf. Justru banyak yang kawin cinta malah gagal total.

Anyway, bukan soal ta'arufnya yang mau dibahas. Akan tetapi soal si perempuan tersebut. Ketika pernikahan akhirnya disetujui, kami kemudian bertemu dengan si perempuan tersebut, setelah prosesi pernikahan selesai dan ia dibawa ke kota kami, ke rumah mertuaku... Untuk dikenalkan dengan sanak saudara dan untuk memulai babak kehidupan mereka yang baru. Canggung kami semua melihat mereka bergandengan masuk ke rumah. Kami berbisik, geli karena pandangan yang tak lazim. Tapi perempuan itu hanya tersenyum manis sambil memegang tangan suaminya sepanjang waktu. "Ia penyabar" bisikku dalam hati. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, aku langsung bisa melihat bahwa ia penyabar. Kami juga melihat mereka sebagai pasangan muda saling memandang. Aku berpikir, mungkin itu romantisnya ta'aruf... Romantis yang diiringi keikhlasan, cinta yang dibangun karena Allah. Perempuan ini penuh cinta, datang masuk ke keluarga kami (keluarga besar suamiku).

Dalam kegiatan-kegiatan kami yang lainnya, seperti biasa jika perempuan berkumpul, maka mulailah celoteh saling membalas. Kadang berguyon, kadang berbagi cerita. Ya namanya perempuan, dengan keimanan yang mungkin naik turun, kadang tersempil gosip, ghibah, dan lain lain. Yang terasa makin nikmat ditelan telinga setelah dibumbui dengan bumbu-bumbu cerita. Tetapi yang aku perhatikan dari perempuan itu, dia tidak pernah ikut serta dalam cerita yang kurang bermanfaat. Maksudku, dia terlibat, tetapi lebih sering melempar senyum. Bukan sebagai aktor yangikut menceritakan hal-hal yang tidak perlu. Dia menjaga lidahnya, menjaga kata-katanya. 

Di lain kesempatan, ketika dia harus melahirkan anak-anaknya. Ibu mertuaku bercerita bahwa tidak dalam satu detikpun ia mengeluh atau mengerang ketika cengkraman bayi yang enggan melihat dunia seperti mencekik dan merobek tulang punggungnya. Aku tahu rasa itu, dari pengalaman melahirkan tiga anak. Memang dalam pengalamanku, sama sekali juga tidak menjerit karena mungkin sudah makan nasihat orang tua yang mengingatkan bahwa harus tetap sabar. Akan tetapi, perempuan itu, iya justru senyum! Aku ingat ibu mertuaku geleng geleng kepala keheranan melihat ia hanya senyum selagi kontraksi berlangsung!!! Tidak ada kernyitan atau keluh kesah. Hanya istighfar, menyebut nama Allah dan senyum! 

Perempuan itu memang tidak terlihat agresif. Tetapi aku dan suami sering memperhatikan bahwa dia konsisten terhadap tekadnya. Suatu hari suamiku melihat dia yang waktu itu dalam keadaan hamil, berjalan oelan di bawah terik matahari dengan membawa 1/2 galon air minum. Pelan berjalan. Berhenti. Berjalan lagi. Berhenti. Berjalan lagi. Berhenti. Ternyata ia baru dari warung membeli air hanya 1/2 galon untuk minum. Tidak memungkinkan bagi ia untuk membawa segalon air seorang diri, dan dalam keadaan hamil. Konsistensi dan keteguhan kepada niat yang ada pada diri perempuan itu begitu besar! (Sudah pasti suamiku langsung membantu ketika melihat kejadian itu, sementara suami si perempuan memang sering dipanggil oleh tugas untuk kemaslahatan ummat). 

Suatu ketika lagi, ketika Daddy (ayahku) meninggal dunia. Walau kami belum begitu dekat setelah sekian tahun. Mungkin karena budaya dan background kami yang berbeda, aku ingat penyesalan yang aku sampaikan bahwa aku ingin jadi anak yang lebih baik. Waktu itu aku merasa waktu tidak berpihak padaku. Tapi perempuan itu dengan tegas, tapi lembut, menyampaikan beberapa ayat Quran menjelaskan bahwa jalan kebaikan itu tetap ada. Begitu melegakan. Ini adalah salah satu contoh dakwah sederhana yang ia kerjakan. 

Dakwah lain juga begitu banyak! Dan dikerjakan terus bertahun-tahun secara konsisten. Ia sering bepergian ke pelosok daerah, membawa anaknya yang kecil-kecil secara bergantian, untuk mengajarkan agama, membaca Quran, berdiskusi, dengan cakupan diskusi yang begitu luas. Mulai dari soal pengembangan diri, keluarga, kerabat, dan bangsa. Aku lihat sendiri mereka berkumpul berhari-hari tanpa henti. Tanpa lelah. Begitu seringnya sehingga kami yang melihat kadang heran dengan energi mereka. Hampir jarang aku menemui mereka yang kala itu masih tinggal di tumah mertua, karena hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan kemasyarakatan. Kadang kami justru mengeluh karena rindu mereka. Atau mertuaku kadang mengeluh karena mereka mengorbankan sebagain dari hartanya untuk dakwah, untuk kepentingan umat. Kadang kami sampai berpikir, lah ya kok bisa mikirin ummat lebih dari memikirkan kami-kami ini? Tapi guess what! Kami lupa bahwa kami juga ummat. Yang mereka lakukan adalah untuk kami dan saudara-saudara kami juga. Mereka kerja siang malam tanpa henti. Seiring dengan waktu kami justru belajar dari keikhlasan mereka. Kami sering berharap untuk punya kelapangan hati yang luar biasa. 

Perempuan ini juga sering terpaksa harus sendiri dan bersabar. Karena suaminya juga bekerja lebih dari full time untuk kemajuan bangsa, cita-cita mereka... Dan teman-temannya. Hal yang sudah dilakukan suaminya sejak lama seaktu dia muda di Cairo dulu - bergabung dalam dakwah dan bekerja secara konsisten untuk kemajuan bangsa. Justru kadang aku yang complain dan berseloroh mengatakan bahwa ia sudah hampir sama dengan istri "bang thoyib" karena selalu ditinggal. Tapi ia senyum saja dan menjelaskan bahwa ia tahu, suaminya bukan hanya miliknya dan anak-anak merek, tapi milik ummat. Kami sering melongo, walau diam-diam, dengan jawaban-jawaban yang begitu ikhlas. Tanpa dikonsep, tanpa ditata. Ikhlas dalam ucapan pertama, karena memang ikhlas dari hati. Kami juga sering berdiskusi dengan mereka, adu argumen dengan tata cara mereka. Argumen yang sehat dan saling membangun. Sering kami heran kenapa mereka tetap pada jalannya,... Tapi akhirnya kami mengerti bahwa jalan itu tidaklah mudah.  Perempuan ini adalah bagian dari sekian banyak dari kepedulian mereka terhadap anak bangsa. Konsep sukarelawan tanpa bayaran, itu hal yang sudah mendarah daging dengan mereka, sudah dari dulu! Tanpa perlu dipromosi juga tetap berjalan. Karena rasa sukarela mereka didasarkan oleh keyakinan kepada Maha Ikhlas. Itulah kekuatan sukarela mereka. Konsep membantu sesama untum maju di bidang ekonomi juga bukan makanan baru, tapi sudah sejak awal. Lah aku sendiri lihat kinerja mereka. Konsep membantu saat bencana juga bukan hal baru, lah ya keberanian mereka untuk maju itu didasari kekuatan hati akan perintah Allah semata. Gak dikasih masuk ke sebuah lokasi? Mereka tidak mundur... Inilah gigih. Inilah konsistensi. Inilah cita-cita. 

Perempuan manis ini berjilbab panjang. Dulu aku belum berjilbab bahkan. Akan tetapi mungkin jika dunia luar tahu, bagaimana hubungan kami. Kami berbeda dari gaya, dari latar belakang, dari pendidikan, .... Tapi apa dunia tahu kalau dulu ketika mereka menikah, aku diminta untuk membantu mereka foto, desain dan sebagainya? Tidak ada siratan sikap yang "anti" terhadap aku ya g kala itu belum berjilbab. Oh Gosh... Malah dulu aku pakai baju sering terbuka! :) Tidak ada komentar tentangku. Tidak ada protes. Dan yang lucunya, semua rekan kerja da. Teman-teman cukup heran melihat perbedaan antara aku dan dia selaku iparku. Atau antara suamiku dan suami dia yang sebenarnya saudara kandung! "Aaah.... Ga mungkin!!! Kok bisa gitu??!!!" Itu kalimat yang biasa yang aku dengar ketika mereka tahu kalau kami bersaudara. "Loh! Suamimu abang suami dia??? Kok bedaaaa??" - kami hanya tersenyum. 

Dalam pikiranku, betapa kerdilnya jika kita hanya berpikir bahwa nilai persaudaraan itu harus dilandasi oleh sebuah kain penutup kepala atau penampilan. Aku sekarang toh mengerti bahwa menutup aurat itu adalah bagian dari tata cara menghormati perempuan yang memang merupakan mahkluk yang sangat mulia. Begitu berharganya sehingga ia hanya bisa dinikmati secara halal oleh muhrimnya. Dan semua itu proses! Penutup aurat juga bukan legitimasi kekuatan iman seseorang, bahwa serta merta ia mulia... Ah, kenapa jadi bicara soal jilbab? Tapi ya itu tadi, ... Kenapa harus merasa aneh jika seseorang dengan gaya seperti aku dekat dengan yang gayanya selerti iparku?? Yang lain kadang menilai sampai mendiskreditkan, lupa bahwa itu tidak disarankan... Sementara kami santai-santai saja. Kenapa tidak bisa dewasa menyikapinya? 

Aku juga dulu punya penilaian yang kurang berpihak kepada adik iparku. Karena aku tidak mengerti dia. Manusia sering mengambil keputusan sepihak. Tapi seiring dengan waktu, aku melihat bahwa ia penyabar, konsisten dengan niatnya, ikhlas, tulus, dan selalu berbuat untuk kebaikan.

Banyak perempuan lain seperti dia. Istiqomah dalam pilihan di dalam hidupnya. Konsisten dalam langkahnya. Terus... Seperti roda ya g berputar. Orang lain mencemooh, mereka tidak membalas, hanya tersenyum. Tidak pernah sekalipun aku mendengar mereka membalas. Mungkin gerak geriknya terlihat lambat... Pelan, tapi hey, mereka ibarat kura-kura yang pelan, tapi terus berjalan dan semakin bertambah bijak. Pelan, tetapi terus berjalan dengan keyakinannya dan mencapai cita-citanya. 

Terus terang, aku salut sama ini perempuan - dan juga dengan rekan-rekannya. Mereka bekerja tanpa pamrih, tanpa perlu disiarkan. Mereka bekerja bukan untuk citra, bukan untuk posisi atau status, tapi karena Allah semata. Ini yang menjaga ahklak mereka, dan meneguhkan sikap mereka.

Oh well, blog ini ditulis karena aku sedikit kecewa dengan komentar-komentar yang aku baca di dunia maya yang sering sekali... Masya Allah, ... Pedas dan keji, terhadap saudara seagama sendiri. Sedangkan dengan mereka yang lain keimanan kita wajib menjaga lidah, apalagi dengan yang seiman! 
Betapa seringnya manusia diombang-ambing oleh nafsu dan keinginan yang begitu besar sehingga lupa untuk konsisten. Lupa untuk berlidah mulia. Lupa mengingat saudara... 

Mudah-mudahan suatu hari akan berubah. Bahwa manusia-manusia baik seperti kedua iparku ini tidak dipandang dengan sinis. Tapi toh, jika itu tetap terjadi...sudah disebutkan juga dalam dakwah Rasulullah, bahwa di akhir zaman banyak hal yang akan terbalik. Yang baik dihinakan, yang hina dibaikkan. But guess what? Aku juga tahu ipar-iparku ini tidak akan berubah. Kudos for them on their persistence and good heart. 

Mudah-mudahan rasa kecewaku malam ini bisa berubah besok. 

Monday, February 24, 2014

Yesterday

This morning listening to Katy Perry singing one of my favorite Beatles song titled “Yesterday”. Sitting alone in the office, just thinking – Every day I have to be here way early than everybody else. Often time with my sleepy mind I would just growl in my head – thinking how much sleep I am loosing each morning for the same routine. Well, today is the day I am trying to be positive and thought, my God, … each morning I am blessed to have my own time to think and review my life. Think and plan about the future, my future and my children’s future. My God! This is my own quality time.

Sometimes I forget to think about all the blessings I have. Meanwhile those blessings come to me in so many forms. Forgetting that I have been so lucky with what I have. Sometime I regret the past, regretting things I did not do yesterday… thinking with “if only” - while I know, deep down in my heart, that every step I took is for a reason. I did not make choices only based on my own logic and instinct. I know there a Great power who led me to those many decisions. I have to remind myself this each day, that sometimes I don’t get what I want, but I get what 
I need. I get what I need for my life and soul. 
I get what I need for my happiness and experience.

Yesterday, … love was such an easy game to play, now I need a place to hide away…. The lyric is actually not encouraging, for the lyric is telling us to admire the past and hide from the future. But damn it is a good song! But hopefully, again I am trying to light up my spirit again that yesterday was just yesterday. I am not going to be fascinated by the gazing stars and forget about the moon [the blessings] that actually light up the night.

Yesterday, may you only become a smile to my thought. Yesterday, may you trigger me to count my blessings each day. Yesterday, may you inspire me to writhe thousands poetry about the moon, not just the stars…


Isn’t this song beautifully done by Ms. Perry? Still is my favorite song. 


http://www.youtube.com/watch?v=NVsD-tFchD0 

Thursday, February 20, 2014

My Favorite China


You are like my favorite china
But covered with dust
But still my favorite!

You are like my favorite china
Glossy, with thousands cracks
Beautifully designed
Smooth surface
Intimidates my temptation

Shines under the moonlight
Bright under the sun
Calling my hands to touch
But you are one fragile porcelain
That I cannot touch

You've broken
I know you have
Holding the pieces
That I cannot touch
Pieces so sharp
That it bleeds me from far

My favorite china
I can only see you from far


::// jaurinata

Another line of words with no theme

Soul, soul, my soul
Come back
What have I done?
To push you away

Soul, soul, my soul
Come back
Give me forgiveness
Unconditionally

Soul, soul, my soul
Be my spirit
Be my spirit
Come back
Come back

For my life is empty
Without you.

Come back.

:://jaurinata